Senin, 09 Februari 2015

Sepia


kau memahami bahasa hujan? suaranya hening, meski kenangan membuatnya jadi kelabu. rinainya selalu mampu mengingatkanku pada foto tua di album pernikahan nenek dan kakekku—yang kini hanya menyisakan beberapa lembar saja. seingatku, tak ada catatan apapun di dalamnya, kecuali beberapa coretan, hasil kenakalanku di masa kanak.

percayakah kau, semua warna pada akhirnya jadi sepia juga, sebelum mengelabu dalam bayang-bayang. seperti saat ini, ketika aku memandangi foto masa kanak, dan menyadari sudut lekuknya sudah tak setajam dulu. ketika tak mampu aku mengingat nama-nama yang pernah kukenal akrab. juga masa-masa yang semakin tak nyata.

aku membayangkan duka waktu yang menempuh separuh keabadian tanpa mampu mengecap sedikitpun menjadi ada. lalu bersedih tanpa alasan yang jelas. aku ingin duduk di depan pintu. memandang jalan yang lenggang. memperhatikan truk-truk yang lelah menempuh jarak ribuan kilo. menebak-nebak kode daerah pada plat nomornya. membiarkan hujan jatuh di ujung jemari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar