kau memahami
bahasa hujan? suaranya hening, meski kenangan membuatnya jadi kelabu. rinainya
selalu mampu mengingatkanku pada foto tua di album pernikahan nenek dan kakekku—yang
kini hanya menyisakan beberapa lembar saja. seingatku, tak ada catatan apapun
di dalamnya, kecuali beberapa coretan, hasil kenakalanku di masa kanak.
percayakah
kau, semua warna pada akhirnya jadi sepia juga, sebelum mengelabu dalam bayang-bayang. seperti saat ini, ketika aku memandangi foto
masa kanak, dan menyadari sudut lekuknya sudah tak setajam
dulu. ketika tak mampu aku mengingat nama-nama yang pernah kukenal akrab. juga masa-masa yang semakin tak nyata.
aku
membayangkan duka waktu yang menempuh separuh keabadian tanpa mampu
mengecap sedikitpun menjadi ada. lalu bersedih tanpa alasan yang jelas. aku ingin
duduk di depan pintu. memandang jalan yang lenggang. memperhatikan truk-truk
yang lelah menempuh jarak ribuan kilo. menebak-nebak kode daerah pada plat nomornya. membiarkan hujan jatuh di ujung jemari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar