Rabu, 04 Februari 2015

Di Kereta


sudah lama tak naik kereta api bersama kamu, terakhir sepertinya sekitar desember 2010, empat tahun lalu. tak terasa waktu berjalan sebegini cepat—percayakah kamu sudah sejauh ini jarak kita? saat itu pemandangannya seperti apa? kau masih ingat? kini pada lengkung gunung dan bentangan kabel listrik aku menitipkan hening, meskipun hanya wajah diri yang kupandang di kaca berembun ini.

seperti lagu yang kaudengar tanpa jemu, suaramu tak henti kurindu saat peluit itu lagi-lagi memekik sedih dari perhentian yang—sebentar aku ingat-ingat—kelima. saat itu kau tertidur pulas, dan aku tak henti mencuri pandang padamu. bibirmu yang polos tanpa pulasan itu menggoda sangat untuk dikecup. 

dulu, keluhku bila punggung mulai letih hanya kaubalas dengan tiga kata sederhana, satu stasiun lagi—entah untuk berapa kali. lalu kau memaksaku mendengarkan lagu korea yang suara vokalisnya seperti menahan riak. kau merengut, pura-pura merajuk, lalu menyandarkan kepalamu di bahuku yang licin—saking rendahnya. aroma parfummu yang itu-itu saja, juga sampo sunsilk yang biasa kaupakai kini menyumbat kepala. 

kau benar, kereta api bukan kendaraan yang cocok untuk seorang pemurung sepertiku. kau harus ditemani, kalau tidak, pasti keluar itu air mata, selorohmu suatu senja. namun, selalu ada yang cekatan menutup diri, selain pintu yang bergeming di dekat toilet kereta, yang seringkali berbau asap dan pesing, atau cahaya yang pupus bersimpuh di ujung malam, zikir panjang yang usai sebentar lagi. ada yang diam-diam menarik diri, kehadiran yang perlahan pudar bersama kota yang kini dipenuhi pupuran lampu. segala kepulangan yang tak lagi mampu menuntaskan rindu, atau kesadaran yang pelan-pelan jadi pahit.

di kota ini, tak ada kamu lagi.

Senin, 2 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar