sudah lama tak naik kereta
api bersama kamu, terakhir sepertinya sekitar desember 2010, empat tahun lalu.
tak terasa waktu berjalan sebegini cepat—percayakah kamu sudah sejauh ini jarak
kita? saat itu pemandangannya seperti apa? kau masih ingat? kini pada lengkung
gunung dan bentangan kabel listrik aku menitipkan hening, meskipun hanya wajah
diri yang kupandang di kaca berembun ini.
seperti lagu yang kaudengar
tanpa jemu, suaramu tak henti kurindu saat peluit itu lagi-lagi memekik sedih
dari perhentian yang—sebentar aku ingat-ingat—kelima. saat itu kau tertidur
pulas, dan aku tak henti mencuri pandang padamu. bibirmu yang polos tanpa
pulasan itu menggoda sangat untuk dikecup.
dulu, keluhku bila punggung
mulai letih hanya kaubalas dengan tiga kata sederhana, satu stasiun
lagi—entah untuk berapa kali. lalu kau memaksaku mendengarkan lagu korea yang
suara vokalisnya seperti menahan riak. kau merengut, pura-pura merajuk, lalu
menyandarkan kepalamu di bahuku yang licin—saking rendahnya. aroma parfummu
yang itu-itu saja, juga sampo sunsilk yang biasa kaupakai kini menyumbat kepala.
kau benar, kereta api bukan
kendaraan yang cocok untuk seorang pemurung sepertiku. kau harus ditemani,
kalau tidak, pasti keluar itu air mata, selorohmu suatu senja. namun,
selalu ada yang cekatan menutup diri, selain pintu yang bergeming di dekat
toilet kereta, yang seringkali berbau asap dan pesing, atau cahaya yang pupus
bersimpuh di ujung malam, zikir panjang yang usai sebentar lagi. ada yang
diam-diam menarik diri, kehadiran yang perlahan pudar bersama kota yang kini
dipenuhi pupuran lampu. segala kepulangan yang tak lagi mampu menuntaskan rindu, atau kesadaran yang pelan-pelan jadi pahit.
di kota ini, tak ada kamu
lagi.
Senin, 2 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar