kenyataannya, dunia ini semakin sunyi, meskipun
disesaki berbagai macam bunyi. kehilangan, kecewa, iri hati, putus asa,
ketidakpercayaan dan perasaan tidak dicintai senantiasa menjadi buah yang
selamanya tercecap di lidah hidup. seolah-olah manusia memang mesti di-ingatkan
akan luka. namun aku sudah belajar untuk merasa cukup atas segala yang telah
digariskan. merenungi langit, mencari sepatah tanda, sembari membayangkan
dirimu baik-baik saja—adalah hal-hal yang tak pernah jenuh kusiasati.
aku memahami pada akhirnya, segala yang terjadi di
dunia pasti memiliki usia. sebab memang beginilah wujud waktu sebenarnya. tak
abadi. bahkan kehilangan ini, aku yakin, takkan bertahan selamanya. akan tiba
masa di mana aku mampu mengenangmu dengan ikhlas—sepenuh rela, dan kembali
mengingat masa-masa bahagia dengan senyuman hangat. kau telah sampai pada angka
di mana kau harus memilih pada siapa kau kan kembali. namun, jika benar waktu
adalah air yang membawa rindu pada muara segala doa, maka izinkan aku berharap,
masih mampu terujud sampai
jumpa itu, di pengujung jalan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar