Senin, 09 Februari 2015

Kisah Sepatah Nama


izinkan saya menceritakan satu nama. dan ini, mungkin, bukan terakhir kalinya.

sebenarnya ada empat kata dalam namanya, namun saya lebih senang menyebutkan dua saja. angela aurelia. semasa hidupnya, ia lebih sering disapa aurel. aurel kecil. dan ia tak di-izinkan meninggalkan masa kanak-kanaknya sepanjang hidupnya. ia pergi saat pelangi belum lagi reda dan kelopak kebahagiaan masih mekar berbunga di rerumputan belia usianya. aurel dan saya pertama bertemu di bangku sd, saya lupa tepatnya kelas berapa, antara kelas satu dan dua. semasa awal sekolah, saya jarang sekali masuk. dalam sebulan paling hanya sekali-dua saya ikut, sisanya lebih banyak absen. awalnya saya izin karena sesak napas, namun lama kelamaan bertumbuh jadi asma.

saat saya harus dirawat di rumah sakit, dialah yang setia menjenguk saya. setiap hari ia selalu datang, bahkan hingga setahun lewat. lalu, setelah hampir dua tahun, barulah perlahan-lahan mulai jarang. tapi saya memakluminya. tiga tahun saya mendekam di kasur putih dengan tangan di-infus. dan dia satu-satunya sahabat yang senantiasa datang. saya tak punya teman lain. belum. karenanya, di tengah hening dan aroma farmasi, kehadirannya selalu saya nantikan. saya lupa alasan kami bisa sedekat itu. saya bahkan sulit mengingat bagaimana wajahnya.

di kelas satu sma, saat saya jalan-jalan di mal grage (cirebon), dompet saya dicuri oleh orang tak bertanggung jawab. saya panik sekali saat itu, bahkan mengangis setibanya di kos, bukan karena materi yang saya simpan di dalamnya, uang yang saya punya hanya lima puluh ribu rupiah. sementara atm belum lagi zaman. tetapi di mana saya bisa merengkuh kenangan itu lagi? sebab di dalamnya juga ada beberapa lembar fotonya yang tersisa.

dulu, setiap saya menunjukkan potretnya pada teman-teman, mereka sering berkata bahwa ia cantik, tapi pucat. saat saya ingat-ingat, saya baru tersadar bahwa ia memang pucat, wajahnya seperti kurang rona. namun senyumnya yang tipis, terasa begitu hangat. tatapannya senantiasa sendu, hampir-hampir sayu. namun ada cerlang kanak-kanak di hitam matanya jika kauamati sungguh. ia gadis cilik yang manis, dan akan tumbuh sebagai perempuan yang menawan, andaikan penyakit itu tidak datang. leukimia.

saya tak tahu kanker itu apa saat saya mendengar kabar kematiannya. saat itu saya baru duduk di kelas satu smp. dan saya sudah dua tahun pindah ke daerah jangga (losarang), jauh darinya yang sepanjang hidup menetap di jonggol (bogor). bahkan saya tak benar-benar kehilangannya saat mendapati kabar ia meninggal di usianya yang belum lagi 12 tahun. ia juga sempat dirawat di rumah sakit yang sama dengan saya dulu.

orang tuanya mengirimkan fotonya dengan pos, lalu semuanya diberikan pada saya. ada lima foto, yang dengan bodohnya semuanya saya masukkan dalam dompet. kecuali satu foto yang saya bingkai dan saya letakkan dekat dengan tidur saya. saya belum pernah sekalipun mengunjungi makamnya, letaknya pun saya tak tahu. sementara sudah lama saya kehilangan kontak dengan orang tuanya. rasa bersalah tak pernah berhenti menyelimuti saya mengingat betapa setianya ia dulu di saat saya terbaring sakit. sementara saya justru menjauh saat ia mungkin meminta sekadar teman berbagi.

jujur, nama ini sempat membuat istri saya cemburu. saat kami (istri dan saya) masih berpacaran, saya menceritakan padanya tentang aurel ini. meski sudah jadi rahasia umum di sekolah, bahwa saya dikenal sebagai si bodoh yang tak bisa move on dari cinta masa kecilnya, tetap saja hal itu melukai hatinya. dia pernah melihat foto aurel—satu-satunya yang tersisa. namun karena segan, saya menyembunyikannya. dan sialnya, saya melupakannya. saya ingat menyelipkannya di salah satu buku, namun melupakan judulnya. dan saya tak pernah menemukannya lagi. sampai sekarang.

kabar kepergiannya memang tak langsung menorehkan luka. hanya rasa kehilangan yang semakin lama semakin nganga—seiring bertambah mengertinya saya tentang ketiadaan, dan bertumbuhnya kesadaran bahwa tak mungkin lagi kami berjumpa. saya sering merasa kosong bila melamunkannya. teman-teman menyebutnya mata mengantuk, namun bila kau sudi melihat lebih dekat, kau bakal menemukan hampa belaka. butuh satu dekade untuk bisa merelakannya. dan mulai membuka hati pada perempuan lain. padahal ia hanya teman masa kecil saya.

semenjak ia pergi, saya berhenti menyebutnya aurel. melainkan angel—satu kata lain dalam namanya. karena begitulah dia saat ini. malaikat. jika kau menemukan puisi-puisi saya, dengan kata malaikat di dalamnya, kemungkinan besar saya menuliskannya untuknya. namun mulai detik ini, saya ingin memanggilnya aurel lagi. panggilan akrab yang dulu saya pakai untuknya. saya tak pernah mengerti apakah dia cinta pertama saya, atau hanya seorang sahabat, namun kehadirannya yang singkat itu, telah membuat saya mengerti cinta.

saya ingin menuliskan namanya lagi di lain hari—seandainya masih diberi waktu, sebab saya tak ingin segala tanda tumbuh dan gugur begitu saja. ada banyak perjumpaan yang ingin saya kekalkan di sini. di dalam selaksa kata. ia bukan seorang yang murung, meskipun kematian merenggut segala bayang sukacita. karenanya suatu kelak saya akan menuliskan segala kenangan bahagia, juga semua hal yang mengingatkan saya padanya. pada senyumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar