izinkan saya menceritakan satu nama. dan ini, mungkin,
bukan terakhir kalinya.
sebenarnya ada empat kata dalam namanya, namun saya
lebih senang menyebutkan dua saja. angela aurelia. semasa hidupnya, ia
lebih sering disapa aurel. aurel kecil. dan ia tak di-izinkan meninggalkan masa
kanak-kanaknya sepanjang hidupnya. ia pergi saat pelangi belum lagi reda dan
kelopak kebahagiaan masih mekar berbunga di rerumputan belia usianya. aurel dan
saya pertama bertemu di bangku sd, saya lupa tepatnya kelas berapa, antara
kelas satu dan dua. semasa awal sekolah, saya jarang sekali masuk. dalam
sebulan paling hanya sekali-dua saya ikut, sisanya lebih banyak absen. awalnya
saya izin karena sesak napas, namun lama kelamaan bertumbuh jadi asma.
saat saya harus dirawat di rumah sakit, dialah yang
setia menjenguk saya. setiap hari ia selalu datang, bahkan hingga setahun
lewat. lalu, setelah hampir dua tahun, barulah perlahan-lahan mulai jarang.
tapi saya memakluminya. tiga tahun saya mendekam di kasur putih dengan tangan
di-infus. dan dia satu-satunya sahabat yang senantiasa datang. saya tak punya
teman lain. belum. karenanya, di tengah hening dan aroma farmasi, kehadirannya
selalu saya nantikan. saya lupa alasan kami bisa sedekat itu. saya bahkan sulit
mengingat bagaimana wajahnya.
di kelas satu sma, saat saya jalan-jalan di mal grage
(cirebon), dompet saya dicuri oleh orang tak bertanggung jawab. saya panik
sekali saat itu, bahkan mengangis setibanya di kos, bukan karena materi yang
saya simpan di dalamnya, uang yang saya punya hanya lima puluh ribu rupiah.
sementara atm belum lagi zaman. tetapi di mana saya bisa merengkuh kenangan itu
lagi? sebab di dalamnya juga ada beberapa lembar fotonya yang tersisa.
dulu, setiap saya menunjukkan potretnya pada
teman-teman, mereka sering berkata bahwa ia cantik, tapi pucat. saat
saya ingat-ingat, saya baru tersadar bahwa ia memang pucat, wajahnya seperti
kurang rona. namun senyumnya yang tipis, terasa begitu hangat. tatapannya
senantiasa sendu, hampir-hampir sayu. namun ada cerlang kanak-kanak di hitam
matanya jika kauamati sungguh. ia gadis cilik yang manis, dan akan tumbuh
sebagai perempuan yang menawan, andaikan penyakit itu tidak datang. leukimia.
saya tak tahu kanker itu apa saat saya mendengar kabar
kematiannya. saat itu saya baru duduk di kelas satu smp. dan saya sudah dua
tahun pindah ke daerah jangga (losarang), jauh darinya yang sepanjang hidup
menetap di jonggol (bogor). bahkan saya tak benar-benar kehilangannya saat
mendapati kabar ia meninggal di usianya yang belum lagi 12 tahun. ia juga
sempat dirawat di rumah sakit yang sama dengan saya dulu.
orang tuanya mengirimkan fotonya dengan pos, lalu
semuanya diberikan pada saya. ada lima foto, yang dengan bodohnya semuanya saya
masukkan dalam dompet. kecuali satu foto yang saya bingkai dan saya letakkan
dekat dengan tidur saya. saya belum pernah sekalipun mengunjungi makamnya,
letaknya pun saya tak tahu. sementara sudah lama saya kehilangan kontak dengan
orang tuanya. rasa bersalah tak pernah berhenti menyelimuti saya mengingat
betapa setianya ia dulu di saat saya terbaring sakit. sementara saya justru
menjauh saat ia mungkin meminta sekadar teman berbagi.
jujur, nama ini sempat membuat istri saya cemburu.
saat kami (istri dan saya) masih berpacaran, saya menceritakan padanya tentang
aurel ini. meski sudah jadi rahasia umum di sekolah, bahwa saya dikenal sebagai
si bodoh yang tak bisa move on dari cinta masa kecilnya, tetap saja hal
itu melukai hatinya. dia pernah melihat foto aurel—satu-satunya yang tersisa.
namun karena segan, saya menyembunyikannya. dan sialnya, saya melupakannya.
saya ingat menyelipkannya di salah satu buku, namun melupakan judulnya. dan saya
tak pernah menemukannya lagi. sampai sekarang.
kabar kepergiannya memang tak langsung menorehkan
luka. hanya rasa kehilangan yang semakin lama semakin nganga—seiring bertambah
mengertinya saya tentang ketiadaan, dan bertumbuhnya kesadaran bahwa tak mungkin
lagi kami berjumpa. saya sering merasa kosong bila melamunkannya. teman-teman
menyebutnya mata mengantuk, namun bila kau sudi melihat lebih dekat, kau
bakal menemukan hampa belaka. butuh satu dekade untuk bisa merelakannya.
dan mulai membuka hati pada perempuan lain. padahal ia hanya teman masa
kecil saya.
semenjak ia pergi, saya berhenti menyebutnya aurel.
melainkan angel—satu kata lain dalam namanya. karena begitulah dia
saat ini. malaikat. jika kau menemukan puisi-puisi saya, dengan kata malaikat
di dalamnya, kemungkinan besar saya menuliskannya untuknya. namun mulai
detik ini, saya ingin memanggilnya aurel lagi. panggilan akrab yang dulu saya
pakai untuknya. saya tak pernah mengerti apakah dia cinta pertama saya, atau
hanya seorang sahabat, namun kehadirannya yang singkat itu, telah membuat saya
mengerti cinta.
saya ingin menuliskan namanya lagi di lain
hari—seandainya masih diberi waktu, sebab saya tak ingin segala tanda tumbuh
dan gugur begitu saja. ada banyak perjumpaan yang ingin saya kekalkan di sini.
di dalam selaksa kata. ia bukan seorang yang murung, meskipun kematian
merenggut segala bayang sukacita. karenanya suatu kelak saya akan menuliskan
segala kenangan bahagia, juga semua hal yang mengingatkan saya padanya. pada
senyumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar