di
jalan kecil yang berkelok-kelok ini, aku hanyut dalam renung, memandangi
rumah-rumah beratap miring yang berjejer sejauh mata memandang, juga
sepatu-sepatu yang dijemur di atas genteng dan pakaian pudar yang berkibar di
bentang tali rafia. kadang kenangan bagai pemandangan di jendela bus. hanya
menyisakan potongan-potongan tak lengkap. seperti sepasang mata, sebait
senyuman, sepatah nama, dan akhir sebuah pengembaraan, ketika tak ada yang
tersisa selain kata. lalu kita kembali pada pertemuan yang tak disengaja. di
sebuah kota yang hanya ada dalam ingatan.
—mengenang
2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar