tak ada pilihan selain duduk di sini, di
bangku belakang bus bhineka. saat kami tengah berhenti di rumah makan alam
sari.
mataku tak henti memandang para
penumpang yang turun membeli tahu sumedang. juga pocari sweat. aku mencium bau
pop mie dan merasa lapar, namun tak ingin makan apapun. aku tidur setengah
tidur, menyandarkan kepalaku pada kaca jendela yang dingin. menikmati
persinggahan. mendengarkan mesin yang berputar. memandang seorang pria yang
merokok di bawah sebatang pohon yang sejak dulu tak pernah pindah dari
tempatnya tumbuh. aku tahu persis perasaan ini. surga yang lubuk-lubuknya
dipenuhi rindu. aku mengambil headseat
dan mendengarkan lagu yang baru saja ku-download
dari situs unduh gratis. lagu yang hari ini baru saja dirilis. lagu yang tak
ingin kupahami liriknya.
saat membaca pesan singkat darimu,
mataku tak sengaja melihat ujung kanan layar ponselku. baru pukul 19.00. tapi
langit sudah segelap sumur. tak ada bintang yang muncul. dan kotamu terasa
semakin jauh. dan aku sebenarnya masih betah menetap. berdua bersamamu
berbelanja di grage mall dan menonton
film barat di bioskop. merenungi hujan daun-daun dari angkot yang kita
tumpangi. juga makan di kedai nasi goreng prima sari—meski saat itu sudah
hampir tengah malam. masa-masa yang dulu seolah selamanya. kini bagai potret
yang tak lagi terjelang.
mengenang 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar