lalu,
jika benar setiap perjalanan mampu menyalakan kembali apa yang dulu padam—juga
perasaan-perasaan yang telah lama jadi hampa, kenapa aku tak mampu
mengingat apa-apa lagi, selain hujan, yang menemani kita di sini—di jalan yang
sudah kita pahami ini, saat payung yang kaugenggam lepas dan kau segera mencari
tempat berlindung di depan toko yang sudah tutup, sementara aku berlari
mengejarnya. padahal biarkan saja—tawamu,
setelah aku berhasil berdiri di sampingmu. menggigil. kini toko itu sudah
menambah jam buka, hingga pukul 20.00. kau tahu? setiap melewatinya, kenangan
mana yang aku rindukan?
aku
senang berjalan di jalan ini, dan mencium aroma sate yang sepertinya sama di
semua tempat namun juga berbeda jika kau kenali akrab. hujan masih membuatku
kuyup oleh rindu, dan terkadang terasa sesak juga. namun aku takkan jenuh
memandangi rumah-rumah yang sejak dulu selalu sama, atau memerhatikan dinding
pada warung yang semakin tua karena dipenuhi keriput lumut. segala hal yang
sepertinya takkan berubah. berapapun jarak dan waktu yang kita sudahi.
untuk
saat ini saja, aku ingin mengenang lagi, percakapan sederhana yang dulu terasa
biasa, juga kata-kata yang tak sempat aku ungkapkan. sebab hal paling istimewa
adalah saat di mana aku masih mampu mengenangmu dengan penuh rasa syukur, bahwa
suaramu masih terdengar meski kini semakin samar, pun atas cerita—masa-masa
yang perlahan menjadi tua, yang akhirnya mampu kupahami maksudnya.
aku
menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar