Kamis, 05 Februari 2015

Hujan Sepanjang Jalan






lalu, jika benar setiap perjalanan mampu menyalakan kembali apa yang dulu padam—juga perasaan-perasaan yang telah lama  jadi hampa, kenapa aku  tak mampu mengingat apa-apa lagi, selain hujan, yang menemani kita di sini—di jalan yang sudah kita pahami ini, saat payung yang kaugenggam lepas dan kau segera mencari tempat berlindung di depan toko yang sudah tutup, sementara aku berlari mengejarnya. padahal biarkan saja—tawamu, setelah aku berhasil berdiri di sampingmu. menggigil. kini toko itu sudah menambah jam buka, hingga pukul 20.00. kau tahu? setiap melewatinya, kenangan mana yang aku rindukan?

aku senang berjalan di jalan ini, dan mencium aroma sate yang sepertinya sama di semua tempat namun juga berbeda jika kau kenali akrab. hujan masih membuatku kuyup oleh rindu, dan terkadang terasa sesak juga. namun aku takkan jenuh memandangi rumah-rumah yang sejak dulu selalu sama, atau memerhatikan dinding pada warung yang semakin tua karena dipenuhi keriput lumut. segala hal yang sepertinya takkan berubah. berapapun jarak dan waktu yang kita sudahi.

untuk saat ini saja, aku ingin mengenang lagi, percakapan sederhana yang dulu terasa biasa, juga kata-kata yang tak sempat aku ungkapkan. sebab hal paling istimewa adalah saat di mana aku masih mampu mengenangmu dengan penuh rasa syukur, bahwa suaramu masih terdengar meski kini semakin samar, pun atas cerita—masa-masa yang perlahan menjadi tua, yang akhirnya mampu kupahami maksudnya.

aku menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar