aku
tak pernah menetap lama di kota ini, hanya sehari-dua, paling lena satu minggu,
itupun untuk sesekali berlibur—sejenak pergi dari kampungku yang sederhana. kau
tak perlu heran jika aku tak mengerti, dan tak mampu menghayati, keluhan yang sering
ditulis orang-orang tentangnya. satu yang aku sadari dengan sungguh, jakarta
adalah tempat yang penuh melankoli. apakah itu jalannya, mal-nya, suasana
malam, lampu-lampu beraneka rona, langit pekat merah tua atau suara tapal kuda di pelataran monas. semuanya begitu nostaljik.
aku
menyukai jakarta. menyukai perasaan yang pelan-pelan jadi hangat ketika
berjalan melewati trotoar dan mampir di gang kelinci untuk memesan nasi goreng,
atau makan ayam lamongan yang letaknya dekat kos kakak perempuanku dulu. aku
masih ingat perasaan sendu duduk di gambir dan memandang ujung monas dari
tempat perhentian kereta. juga bangku-bangku yang tersusun rapi namun tak
pernah sepi. pun saat taksi atau mobil yang kami sewa mengantarkan kami ke
mal-mal yang besarnya membuatku merasa miskin.
aku
rindu, ketika di malam pergantian tahun, aku memandang adikku
tersenyum di pelataran central park, ketika lampu warna-warni
berkelindan di sepanjang jalan. malam itu semarak, dipenuhi lalu lalang,
namun juga nyaman. aku rindu gerimis yang turun saat kami melewati bilangan
jakarta pusat dan memandang trotoar dipadati orang-orang yang ingin
melepaskan kembang api. bersiap untuk riuh yang tak perlu. juga langit tua, yang
bersedih untuk tahun yang sebentar lagi lewat; tahun yang penuh kecemasan,
duka, dan penyesalan; namun juga empunya kebahagiaan, kenangan, dan perjumpaan. aku rindu rasa sate nugget yang dibelikan adikku, suaranya yang lembut, percakapan singkat kami, juga ketika ia melihat kembang api dari jendela di apartemen mediterania.
segala yang membuatku tak ingin kembali ke kota ini.
—mengenang
31 desember 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar