Senin, 16 Februari 2015

Jakarta


aku tak pernah menetap lama di kota ini, hanya sehari-dua, paling lena satu minggu, itupun untuk sesekali berlibur—sejenak pergi dari kampungku yang sederhana. kau tak perlu heran jika aku tak mengerti, dan tak mampu menghayati, keluhan yang sering ditulis orang-orang tentangnya. satu yang aku sadari dengan sungguh, jakarta adalah tempat yang penuh melankoli. apakah itu jalannya, mal-nya, suasana malam, lampu-lampu beraneka rona, langit pekat merah tua atau suara tapal kuda di pelataran monas. semuanya begitu nostaljik.

aku menyukai jakarta. menyukai perasaan yang pelan-pelan jadi hangat ketika berjalan melewati trotoar dan mampir di gang kelinci untuk memesan nasi goreng, atau makan ayam lamongan yang letaknya dekat kos kakak perempuanku dulu. aku masih ingat perasaan sendu duduk di gambir dan memandang ujung monas dari tempat perhentian kereta. juga bangku-bangku yang tersusun rapi namun tak pernah sepi. pun saat taksi atau mobil yang kami sewa mengantarkan kami ke mal-mal yang besarnya membuatku merasa miskin.

aku rindu, ketika di malam pergantian tahun, aku memandang adikku tersenyum di pelataran central park, ketika lampu warna-warni berkelindan di sepanjang jalan. malam itu semarak, dipenuhi lalu lalang, namun juga nyaman. aku rindu gerimis yang turun saat kami melewati bilangan jakarta pusat dan memandang trotoar dipadati orang-orang yang ingin melepaskan kembang api. bersiap untuk riuh yang tak perlu. juga langit tua, yang bersedih untuk tahun yang sebentar lagi lewat; tahun yang penuh kecemasan, duka, dan penyesalan; namun juga empunya kebahagiaan, kenangan, dan perjumpaan. aku rindu rasa sate nugget yang dibelikan adikku, suaranya yang lembut, percakapan singkat kami, juga ketika ia melihat kembang api dari jendela di apartemen mediterania. segala yang membuatku tak ingin kembali ke kota ini.

—mengenang 31 desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar