adakah yang tersisa, jika segala yang kembali tak lagi sama
dengan apa yang dirindu—ketika kenangan tak membuat mata terasa hangat, hanya
pahit di dada. bahkan, lampu-lampu yang sedari dulu tak pernah berubah, kini
bagai potrait dari masa yang jauh. pudar dan rapuh. memang, pertemuan tak abadi,
selalu ada hal-hal yang kelak jadi berharga, tapi bagaimana aku bisa menanggung
ingatan jika perpisahan yang muram itu tak memberi tanda tuk hadir?—hanya
menorehkan luka yang mustahil kita bagi. bagaimana aku mampu menyiasati
detik-detik yang terlambat menjadi nyata, atau cinta yang terlewat.
dik,
terima kasih, karena telah mengajariku, bahwa kepergian
hanya sebuah jenak dalam hidup, yang sebentar layu bersama hening waktu. namun
kerinduan mampu datang kapanpun ia mau, di manapun ia berkehendak gugur. dan
kini, beberapa kenang terasa tak ada bedanya. aku pun belajar merelakan. meski
tak mampu aku merapatkan bahu dan menjadi dekap bagi resahmu, pun mengulurkan
tangan bila goyah kakimu melangkah.
apakah mungkin, saat kita mengenang sesuatu, pikiran kita
juga ikut berinteraksi (secara tak langsung) dengan kehidupan di masa itu?
barangkali kamu di masa lalu bisa merasakan segenap dekap yang saat ini aku
rindukan? barangkali kamu bisa mendengar setiap kata yang aku sampaikan dalam
pejam? sebab beginilah satu-satunya cara agar kita terhubung lagi, aku takkan
berhenti mendoakanmu.
Rabu, 4 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar