Rabu, 04 Februari 2015

Dik,




adakah yang tersisa, jika segala yang kembali tak lagi sama dengan apa yang dirindu—ketika kenangan tak membuat mata terasa hangat, hanya pahit di dada. bahkan, lampu-lampu yang sedari dulu tak pernah berubah, kini bagai potrait dari masa yang jauh. pudar dan rapuh. memang, pertemuan tak abadi, selalu ada hal-hal yang kelak jadi berharga, tapi bagaimana aku bisa menanggung ingatan jika perpisahan yang muram itu tak memberi tanda tuk hadir?—hanya menorehkan luka yang mustahil kita bagi. bagaimana aku mampu menyiasati detik-detik yang terlambat menjadi nyata, atau cinta yang terlewat. 

dik,

terima kasih, karena telah mengajariku, bahwa kepergian hanya sebuah jenak dalam hidup, yang sebentar layu bersama hening waktu. namun kerinduan mampu datang kapanpun ia mau, di manapun ia berkehendak gugur. dan kini, beberapa kenang terasa tak ada bedanya. aku pun belajar merelakan. meski tak mampu aku merapatkan bahu dan menjadi dekap bagi resahmu, pun mengulurkan tangan bila goyah kakimu melangkah.

apakah mungkin, saat kita mengenang sesuatu, pikiran kita juga ikut berinteraksi (secara tak langsung) dengan kehidupan di masa itu? barangkali kamu di masa lalu bisa merasakan segenap dekap yang saat ini aku rindukan? barangkali kamu bisa mendengar setiap kata yang aku sampaikan dalam pejam? sebab beginilah satu-satunya cara agar kita terhubung lagi, aku takkan berhenti mendoakanmu.

Rabu, 4 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar